Tiga Fungsi Penderitaan Di Dalam Kristus

  • Whatsapp

Abdy Busthan, M.Pd Seorang Penulis Buku

Bacaan Lainnya

PEMAHAMAN AWAL

Pertama, Pencobaan dalam bahasa Yunani yaitu “peirasmos” menunjuk kepada penganiayaan dan kesulitan (= penderitaan/kesengsaraan) yang datang dari dunia

Kedua, Kitab Yakobus adalah kitab yg  penuh polemik. Kenapa? Kitab ini memiliki sejarah perdebatan sengit diantara para teolog ketika ingin dikanonisasikan. Marten Luther salah satu tokoh yang meragukan keabsahan kitab ini. Dia menyebutkan kitab ini adalah “Jerami” karena tidak memiliki sifat Injil di dalamnya.

Ketiga, Disamping itu penulisnya juga menjadi polemik. Sebab banyak nama Yakobus yang muncul di dalam PB, seperti: Murid Yesus bernama Yakobus anak Zebedeus, Yakobus anak Alfeus saudara Matius pemungut cukai, dll. Namun akhirnya diketahui bahwa penulisnya adalah  Yakobus, saudara Tuhan Yesus (lihat Gal. 1:19). yang pernah bertemu secara khusus dengan Yesus setelah kebangkitan dan mempunyai peran penting diantara murid-murid meskipun tidak termasuk keduabelas murid. (Matius 13:55; Kisah Para Rasul 21:15-25; 1 Korintus 15:7;  Galatia 2:9). Untuk menjelaskannya kita butuh waktu 1 semseter. Jadi sementara kita tinggalkan saja hal ini.

Baca juga : Siap-siap Awal Tahun 2021, Kemenpan RB Buka Seleksi CPNS

Kenyataan bahwa hidup ini adalah penderitaan bukanlah isapan jempol semata. Penderitaan adalah wajah kefanaan dunia ini (Fana = sementara, tdk kekal). Ya, penderitaan hadir dimana-mana, kemarin, saat ini dan nanti. Bahkan sesungguhnya “penderitaan” merupakan sejarah peradaban Kekristenan yang tak terbantahkan.

Bahkan ironisnya, Sejarah pun secara jujur memperlihatkan bahwa manusia adalah makhluk penghindar derita yang nyaris sempurna. Kita bisa lihat dalam sejarah peradaban sejak zaman dulu, bahwa dunia ini JUSTRU semakin rusak akibat “manusia menghindari penderitaan”.

Mengapa orang tertarik dengan kemewahan? Mengapa orang memburu kenikmatan? Mengapa orang mengejar kedudukan dan jabatan? Mengapa penguasa mempertahankan status quo? Mengapa ada hegemoni kekuasaan? Mengapa hadir patolologi sosial? Jawabannya hanya satu “dia menghindari penderitaan”. Ya, manusia tidak mau bahkan tak ingin hidup menderita!

Korupsi, penipuan, perampokan, persinahan dan lain sebagainya, adalah akibat dari usaha manusia untuk menghindari penderitaan, baik fisik dan psikis.Manusia takut, bahkan malu hidup dalam penderitaan.

Kenyataan ini akhirnya membuat manusia membalikkan makna “Ucapan Bahagia” yang diajarkan Kristus kepada kita dalam Injil Matius 5: 2-12. Sehingga munculah klaim bahwa “Hidup ini seharusya lebih baik dari hidup ini”. Namun justru semakin kita berpikir ke situ, ternyata “Hidup ini seharusya tidak lebih baik dari hidup ini”

Baca juga : BLT Subsidi Gaji Guru Honorer Kemendikbud Cair Hari Ini, Cek Nama & Syarat & di info.gtk.kemdikbud.go.id

Memasuki revolusi industri 4.0 atau peradaban yang serba ada dan serba bisa ini, manusia bahkan semakin lupa dan berkaca bahwa siapakah ia dihadapan Pencipta? Kita lupa bahwa kita adalah makluk yang penuh kehinaan. Kita lupa bahwa Kekristenan sejati terletak pada penderitaan-penderitaan yang mutlak terjadi dalam kehidupan ini.

Akhirnya kita pun menghianati penderitaan hidup kita sendiri. Kita lalu berdoa, Tuhan lepaskan penderitaan ini. Tuhan saya tidak mau hidup dengan penderitaan. Saya tidak ingin menghadapinya. Tuhan saya kan sudah percaya Engkau, kenapa penderitaan harus ada? Tuhan saya tidak mau dia menyakiti saya, saya tidak mau selingkuhan saya menduakan saya, oh sungguh saya tidak mau ya Tuhan….

Pada titik ini, kita pun terperangkap dalam euforia kemakmuran. Kita harus hidup dalam kesenangan. Akhirnya kita menaikan status FB bahwa di dalam Tuhan tidak ada penderitaan. Di dalam Tuhan Anda akan senang dan gembira… Di dalam Tuhan ada kemakmuran,, di dalam Tuhan ada bla, bla…bla….. lainnya

FUNGSI PENDERITAAN

Saya ingin kita melihat firman Tuhan dalam Yakobus 1:1-7 atau 8 ini, agar kita paham  bahwa ada banyak fungsi dari setiap penderitaan hidup yang kita alami di dalam Tuhan. Saya melihat ada beberapa fungsi penderitaan dalam bacaan ini, namun karena kita dibatasi waktu, maka saya mencoba mengambil tiga fungsi yang cukup urgen untuk kita pahami bersama.

Fungsi Pertama:Penderitaan Pintu Masuk Kepada Kebahagiaan Sejati

Yakobus 1:2: “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan” (bandingkan Yakobus 1;12; Matius 5:12)

Istilah“Peirasmos” (pencobaan) adalah bahagia yang tertunda. Kita bisa mengutip pepatah klasik: Bersakit-sakit dahulu, bersenang kemudian (Boleh lht Kisah Yusuf dan Ayub). Kita sering balik pepatah ini menjadi: “bersenang dahalu, baru mampus kemudian”.

Jika kita bisa sedikit memaknai “Penderitaan” ini, maka kita akan paham bahwa penderitaan adalah satu-satunya cara Kristus mewujudkan Anugerah Keselamatan bagi orang percaya. Keselamatan yg kita dapatkan saat ini bersumber dari penderitaan Kristus. (kelahiran dan penyaliban Kristus).

Untuk menyelamatkan kita pada kebahagiaan sejati di surga, Yesus tidak sedang bermain dadu. Dia tidak tertawa diatas penderitaan orang lain. Tuhan pun tidak berpesta pora. Tapi Ia menderita hingga tersalib dalam kehinaan di kayu salib.

Banyak hamba-hamba Tuhan sering meneriakkan “telologi kemakmuran”.. bahwa Kristen itu harus makmur dan apa saja yg kau minta pasti diberikan. Sikap ini kemudian membuat kita opurtunis terhadap penderitaan di sekeliling kita. Akhirnya kita mencoba dengan berbagai cara agar kita tidak menderita. Sekalipun cara-cara tersebut menjerumuskan kita dalam dosa, yang penting kita harus keluar dari penderitaan.

Bahkan banyak orang Kristen berpikir hidup harus bebas dari penderitaan. Percaya Yesus berarti terlepas dari derita dan airmata. Percaya Yesus berarti hidup makmur dan kaya raya, harus makan daging bai tiap hari, harus elegan dan seksi, dan senang..senang..dan senang. Jika perlu, kita berdoa singkirkan penderitaan dari kehidupan kita.

Kenyataan ini akhirnya membuat kita membalikkan makna “Ucapan Bahagia” yang diajarkan Kristus kepada kita. Sehingga muncullah klaim bahwa “Hidup ini seharusya lebih baik dari hidup ini”. Namun yang terjadi justru semakin kita berpikir ke situ ternyata “Hidup ini seharusya tidak lebih baik dari hidup ini”

Sekali lagi, Kebahagiaan didalam Kristen  adalah sebuah antitesis (Matius 5: 2-12/ Lukas 6:20-26). Sintesis adalah antitesis: Ada karna tiada; Hitam karena Putih; Tertawa karena menangis, dll.

Baca juga : Guru Honor Yang Lolos PPPK Digaji RP 4 Juta Per Bulan

Fungsi Kedua: Penderitaan adalah Ujian Ketekunan Iman.

Yakobus 1:3 “Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan” ( bandingkan Ibrani 10:36)

Apa artinya? Kita tidak mungkin sampai pada titik “ketekunan” tanpa mengalami penderitaan. Ketekunan ini adalah ‘kesungguhan’ yang muncul setelah kita melewati aneka pencobaan sebagai “ujian terhadap iman”. Pencobaan kadang-kadang menimpa kehidupan orang percaya supaya Allah dapat menguji (kesungguhan) iman mereka.

Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa kesulitan hidup selalu menandakan bahwa Allah tidak senang dengan kita. Justru sebaliknya, kesulitan tersebut dapat menjadi tanda bahwa Allah mengakui komitmen kita kepada Dia (bd. pasal Ayub 1:1-2:13).

Karena itu, jangan menyerah jika hidup ini sulit—penuh kesulitan. Bersyukurlah bahwa Allah sedang mempersiapkan hal yang indah dan hebat setelah kita mampu menghadapinya. Ingat kisah Ayub dan Yusuf. Apa yang mereka alami?

Mungkin kita pernah mengalami suatu situasi dimana kita telah melakukan sesuatu yang benar, tetapi keadaan justru menjadi buruk. Apakah itu menunjukkan kita adalah orang jahat?dan apakah itu berarti Allah menolak kita? Yusuf juga memiliki pertanyaan serupa disepanjang peristiwa yang tercatat dalam Kejadian 39.  Masalahnya bermula tatkala ia dijual sebagai budak oleh saudara-saudara kandungnya sendiri. Sejak itu, meski ia telah berlaku sangat baik, namun masalah terus datang menguntitnya.

Baca juga : Bawaslu Alor Serahkan Sertifikat dan SK Kelulusan Peserta SKPP Alor

Sebagai contoh, walaupun Yusuf menjaga integritasnya, namun ia dituduh melakukan kejahatan serius terhadap istri Potifar, majikannya. Potifar menanggapi hal itu dengan menjebloskan Yusuf ke dalam penjara. Yusuf, seorang yang baik, jujur, percaya pada Allah, merana dalam penjara Mesir.  Mengapa Allah tidak melepaskannya? Mengapa kebenaran itu tidak terusut? Bukankah keadaan benar-benar tampak tidak adil?

Selama beberapa waktu tak terjadi sesuatu pun pada diri Yusuf. Namun, yang penting di sini adalah, “TUHAN menyertai Yusuf ” (39:21). Allah sedang menjalankan rencana-Nya, dan untuk sementara waktu Yusuf harus tinggal di penjara orang Mesir. Apa yang tampaknya buruk, sesungguhnya baik, karena itu adalah bagian dari rencana Allah yang sempurna. 

Bagaimana dengan kita orang-orang percaya pada saat ini ? Ditengah kehidupan yang semakin susah apakah kita harus meninggalkan Allah? Tidak! Sesunggunya melalui penderitaan yang ada kita harus terus bertekun dalam iman kita. Sekali lagi, mungkinkah kita tekun di dalam iman jika kita tidak menderita bersama Yesus?

Fungsi Ketiga: Penderitaan Menghadirkan “Kedewasaan”

Yakobus 1:4: “Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun” (bandingkan 1 Korintus 2:6)

Kedewasaan iman itu tidak jatuh dari langit. Tentu ia melalui berbagai proses dan tantangan. Dan tidak ada seorang pun manusia yang bisa meraih tingkat kedewasaan dalam iman tanpa melalui atau mengalami penderitaan dan kesulitan hidup. Singkatnya, penderitaan melahirkan “kematangan”

Baca juga : GMNI Alor Bersama Pemdes Oamate Tanam Air di DAS

Istilah “Matang” yang dalam bahasa Yunaninya  “Teleios” mencerminkan pengertian alkitabiah tentang “kedewasaan”, yaitu hubungan yang benar dengan Allah, dan berbuahkan usaha yang sungguh-sungguh untuk mengasihi Dia dengan sepenuh hati dalam pengabdian yang sepenuhnya, (ketaatan, dan kemurnian jiwa) (Ulangan 6:5; 18:13; Matius 22:37;)

Ketika seseorang dewasa dalam iman, dia tentu sempurna dan utuh (Integritas), sehingga tdk kekurangan hikmat. Hal yang penting disini bahwa, kualitas iman Kristen ada di dalam pencobaan dan penderitaan. Iman akan bertumbuh dengan baik ketika kita melalui proses demi proses dalam penderitaan hidup. Kita berdoa meminta kekuatan, tetapi Tuhan memberikan kesulitan, agar melalui kesulitan yg kita alami, maka kita akan menjadi kuat. Kita pun berdoa meminta hikmat, tetapi Tuhan memberikan masalah, agar dgn menghadapi masalah kita akan memperoleh hikmat (wisdom). Demikian halnya jika kita meminta keberanian, maka Tuhan akan memberikan suatu mara bahaya, agar dgn melewatinya kita pun menjadi sang pemberani.

Hal berikut bahwa penderitaan itu memang harus ada agar kita tahu Tuhan sayang terhadap kita. Mungkinkah kita katakan Yesus sebagai Juruselamat jika Ia tidak menderita bagi kita? Mungkinkah Ia bisa dekat dengan mereka yang terluka, tersisih dan terlupakan, jika ia tidak menderita untuk Anda dan saya?

November Akhir, Abdy Busthan, Lorong Gereja Sion Karang Tumaritis, Kota Nabire Papua.

LENSANUSAKENARI.NET menerima tulisan untuk dipublikasi diwebsite ini dengan ketentuan sebagai berikut pada RUANG PEMBACA

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait