Indonesia vs Musuh Dalam Selimut : Apa Kita Krisis Nasionalisme?

  • Whatsapp

Oleh : Welem G. Maniyeni, (Ketua BEM Untrib Kalabai, 2018-2019)

Tujuh puluh satu tahun (74 Tahun ) Indonesia dalam usia menikmati kemerdekaan. Kemerdekaan yang dimaksudkan adalah merdeka melawan penjajahan dari bangsa-bangsa yang terus merampas kekayaan di bumi pertiwi dan ingin menduduki Indonesia 74 tahun silam. Negara dengan dasar Pancasila dan yang mengaku Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan dengan Semboyan BHINNEKA TUNGGAL IKA, Arti Bhinneka Tunggal Ika adalah berbeda-beda tetapi satu jua yang berasal dari buku atau kitab sutasoma karangan Mpu Tantular / Empu Tantular serta diklaim NKRI Harga Mati, katanya.

Bacaan Lainnya

Memasuki usia yang hampir satu abad ini, terus dijajalah, bukan dijajah oleh Negara lain seperti halnya 74 tahun silam. Namun, dijajah oleh bangsanya sendiri alias musuh dalam selimut dengan bentuk penjajahan yang berbeda pula baik itu rasisme, feodalisme dan masih banyak lagi bentuknya. Indonesia yang semestinya fokus mengikuti dan menghadapi persaingan global, indonesia yang semestinya fokus diutang negara dan permasalahan dari berbagai aspek lainnya, harus mengalikan pikiran terhadap pemberontakan yang datang dari dirinya sendiri.

Menjajah atau melawan Indonesia sama saja dengan memberontak Pancasila. Karena Pancasila adalah dasar Negara yang merupakan paradigma dan pandangan hidup bangsa Indonesia serta jati diri bangsa Indonesia itu sendiri. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila mampu menguatkan dan mengikat kehidupan berbangsa dan bernegara dari Sabang sampai Merauke. Akan tetapi, dengan semangat empat lima ada oknum-oknum tertentu yang ingin memecah bela kesatuan yang telah dibangun dan telah dibaluti dengan ikatan NKRI. Mereka tidak menyadari akan perjuangan mempertahankan bangsa ini, perjuangan dengan titik darah dan keringat se akan bumi pertiwi tak mampu menahan tampungan darah dan keringat dari pejuang, parah tokoh yang telah gugur dalam medan perang. Seakan orang bertanya-tanya apakah ini kutukan? terhadap penggalan kalimat yang disampaikan oleh sang Proklamator Bangsa ini bahwa “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”

Pentingnya Nasionalisme

Nasionalisme, paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri atau kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan. Nasionalisme semesetinya dilakukan oleh kaum-kaum Nasionalis dengan memberikan pembekalan tentang nasionalisme terhadap generasi penerus bangsa ini. Namun tidak hanya itu saja kitapun turut menjaga dan mempertahan itu. Jikalau ini tidak dilakukan dipastikan Indonesia akan krisis Nasionalisme dengan demikian penjajahan dari dalam diri bangsa inipun terus dilakukan, dan pada akhirnya Indonesia akan bisa terpecah belah. 

Refleksi dan Terus jaga Pancasila

Akhirnya diusia yang ke 74 mari kita berhenti sejenak sambil merefleksikan diri, melihat kembali filosofi logo 74 tahun yakni bukan 7, bukan 4 bukan “aku” bukan “kamu” tetapi 74 dan kita “Persatuan”. Kita harus bijaksana dan seperti garis lurus yang mengarahkan ke kanan sebagai lambing pergerakan bergerak maju meraih cita-cita bangsa dan persatuan dengan terus menjaga Pancasila. Ya Pancasila, lima dasar yang mampu memegang kokoh Indonesia dari berjuta penduduk, pulau dan bahasa serta keanekaragaman lainnya dari dahulu dan bahkan nanti agar terus kuat dan tetap tegar menopang Indonesia menjadi tetap Indonesia karena Pancasila itu rumah kita semua.

PERCAYALAH KITA AKAN TETAP INDONESIA SAMPAI KIAMAT. #SAVEPANCASILA #SAVENKRI

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait