Erupsi, Begini Cerita Sejarah dan Kepercayaan Masyarakat Tentang Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata .

  • Whatsapp

Kondisi terkini Gunung Ile Ape/Ile Lewotolok, Kabupaten Lembata.
(Foto : Gilamo Turwin)

Lembata,LENSANUSAKENARI.NET. Gunung Ile Lewotolok yang berada di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur mengalami erupsi yang disertai dengan bunyi ledakan, Minggu (29/11/2020).

Bacaan Lainnya

Diketahui Gunung Ile Ape atau juga biasa disebut ile lewotolok sendiri merupakan gunung yang berada di ketinggian 1319 meter diatas permukaan laut. Sedangkan nama Ile Ape sendiri merupakan terjemahan dari bahasa daerah lemaholot yang  bila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia memiliki arti gunung api.

Letusan kali ini bukan lah letusan pertama yang terjadi di gunung Ile Ape, karena sebelumnya gunnung ini sudah pernah meletus. Gunung ini meletus pertama kalinya pada tahun 1666, kemudian tahun 1800-an, dan Tahun 1920-an. Letusan terdahsyat gunung Ile Ape terjadi pada tahun 1966 dan 1985 yang melululantahkan pulau lembata dan pulau – pulau disekitarnya.

Masyarakat sekitar Ile Ape mempercayai bahwa gunung merapi Ile Ape menyimpan kekuatan mistis yang terjaga selama bertahun – bertahun dan terdapat aturan – aturan adat yang tidak boleh dilanggar. Masyarakat Ile Ape percaya bahwa gunung tersebut memiliki penjaga mistis seorang perempuan, sehingga menurut mereka jika mengesampingkan mengenai fenomena alam, maka menurut kepercayaan yang dianut gunung tersebut tidak akan mengalami erupsi atau meletus jika tidak ada adat yang dilanggar digunung tersebut.

“Gunung ini mempunyai kekuatan mistis itu sudah ada dan kita jaga selama bertahun – tahun, ada aturan – aturan adat yang kita tidak boleh langgar karena di gunung ini ada penjaga mistis, penjaganya itu perempuan, jadi kalau ada buat pelanggaran ya dia marah karena sudah merasa malu. Secara ilmu pengetahuan, ini dikatakan fenomena alam tapi kita yang orang adat ini merasa bahwa gunung ini tidak akan meletus atau erupsi jika tidak ada melanggar aturan atau adat digunung tersebut”. Ujar Jefri, masyarakat lembata yang tinggal di kaki gunung ile lewotolok tersebut.

Jefri juga menuturkan bahwa untuk menghormati kemistisan dan cerita yang tersimpan di gunung Ile lewotolok, biasanya masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar kaki gunung akan rutin melakukan upacara adat yang  sering disebut “makan kacang” atau “pesta kacang” yang harus di ikuti oleh 26 Desa yang tergabung dalam dua kecamatan yang terletak disekitar kaki gunung Ile Lewotolok. Jefri juga menambahkan bahwa masyarakat disekitar kaki gunung juga melarang adanya tindakan – tindakan pengrusakan dan penggusuran terhadap batu – batu yang berada digunung tersebut karena sudah ada dan terjaga selama berpuluh – puluh tahun.

“Biasanya kita menghargai, dan menghormati apa yang sudah ada disemesta ini, dengan upacara adat yang kita buat guna mencerminkan nilai luhur dan keinginan bersahabat dengan alam, kita rutin buat upacara adat, yang kita orang sini biasa bilang makan kacang atau pesta kacang, selain itu barang yang sudah ada selam berpuluh – puluh tahun sudah terjaga kita tidak ijinkan untuk kasih rusak, apalagi gusur itu batu di gunung, itu tidak boleh karena itu keramat, dari sebelum kita ada juga itu benda sudah ada disana, jadi seharusnya kita jaga jangan kita kasih rusak”. Ujar Jefri menambahkan.

Jefri juga menyesalkan erupsi dan ledakan yang terjadi, ia mengungkapakan bahwa masyarakat sekitar, berkeyakinan bahwa bencana yang terjadi merupakan akibat yang harus ditanggung karena kelalaian yang dilakukan oleh oknum – oknum tertentu saat melakukan pembukaan jalan menuju ke gunung ile lewotolok. Jefri dan masyarakat sekitar yakin dalam proses pekerjaannya ada hal – hal keramat yang dilanggar dan dirusak temasuk dengan batu – batu yang digusur, seharusnya tidak perlu dilakukan hal tersebut.

“Kita masyarakat yang tahu, kita menyesal untuk bencana ini, karena kalau kita yang tahu kita yang percaya bencana ini sebagai akibat dari adanya aturan – aturan adat yang dilanggar sehungga membangkitkan kemarahan, penjaganya merasa malu, bahkan kalau kita omong kasar merasa ditelanjangi, karena waktu kerja buka jalan ke gunung tu harusnya batu – batu itu jangan digusur, kan tidak menghalangi juga, jadi ada hal – hal keramat yang sudah dilanggar”. Ujar Jefri meyakinkan.

Jefri pun menyampaikan ia berharap status gunung tersebut dapat secepatnya normal, agar ia dan masyarakat bisa melakukan upacara adat yang menjadi syarat gunug tersebut tenang dan kembali bersahabat sehingga tidak meresahkan masyarakat dan tidak mendatangkan bencana yang lebih besar.

“semoga kondisi gunung cepat kembali ke status normal, supaya kita bisa buat upacara adat sebagai syarat agar bisa kembali tenang – tenang dan tidak ada bencana yang lebih besar lagi”. Imbuh Jefri penuh harap.

Jefri menceritakan bahwa sebenarnya, sebelum terjadi erupsi dan ledakan pada minggu (29/11) pagi, masyarakat seolah sudah di peringatkan denggan asap yang dikeluarkan gunung ile lewotolok pada hari Jumat (27/11).

“sebelumnya pada hari jumat tu semacam sudah ada peringatan, karena jumta pagi tu, gunung kasi keluar asap tapi tidak ada meledak atau lainnya, hanya asap tipis saja yang di keluarkan terus pada jumat malam tu ada bunyi macam bunyi guntur kecil, jadi kita masyarakat pikir hanya ada batu yang jatuh terus setelah tidak ada tanggapan dan respon apa – apa, maka hari minggu pagi tu yang langsung keluar asap hitam, bunyi ledakan besar terus keluarkan batu panas dan belerang sehingga masyarakat semua lari berhamburan”. Ujar Jefri memberi keterangan Rabu (9/12//2020). (Gitur)

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait